Sabtu, 22 Januari 2011

cerpen #first post

 koridor misteri


Tiga jam sudah aku duduk termangu disini,menatap langit yang tertutup oleh gumpalan bewarna hitam keabuaabuan, “huft” aku menarik nafas panjang merasakan kebosanan yang ada
“sepertinya sore ini akan hujan” gumamku kecil sembari memainkan jari jari kecilku
Aku kembali menatap langit dan aku memutuskan untuk meninggalkan bangku panjang yang sudah tua dan lapuk. Aku melangkahkan kakiku ke arah sebuah bangunan, bangunan megah yang terlihat sangat sepi tak berpenghuni. Aku membuka pintu bangunan itu, aku tersenyum sinis menatap seluruh isi bangunan itu, tiba tiba dari dalam bangunan terdengar suara orang memanggil namaku, suara itu terdengar jelas, jelas sekali dan aku memutuskan untuk mencari sumber suara yang sedikit membuatku penasaran.
“sini Nin” suara itu terdengar lagi
“hei siapa kamu !” teriaku sambil terus mencari sumber suara itu
Tak ku dengar orang menjawab , dan aku membereranikan diri untuk terus mencoba memasuki rumah tua itu.
“Alnia” lagi lagi suara itu terdengar nyaring
“hei aku serius, jangan bercanda deh” teriaku kesal karena aku merasa dikerjai oleh seseorang
Sepuluh menit sudah aku mengitari rumah tua penuh debu yang menurut orang orang sedikit angker tersebut. Aku merasa tak ada gunanya aku mencari sumber suara itu, walau dalam hati masih ada rasa penasaran aku memutuskan untuk keluar dari rumah bercat putih yang mulai kusam tersebut. Aku menutup pintu rumah itu, dan sekali lagi aku tersenyum sinis melihatnya.
“Nia” panggil Sessy teman sekelasku “ngapain kamu masuk rumah angker itu ?” tanya Sessy bingung dengan tingkah konyolku yang membuat dirinya khawatir
“enggak Ses, aku ngerasa nggak asing dengan rumah itu” jawabku sambil menggandeng tangan sahabatku Sessy
“udah udah deh jangan masuk kesana lagi ya ?” Bujuk Sessy yang merasa semakin khawatir dengan keadaanku yang terlihat pucat pasi
“tapi Ses....” omongan ku terputus
“udah deh nurut dong, ayo ke asrama kamu harus istirahat” potong Sessy yang sedikit menggagetkanku
Aku dan Sessy menuju ke asrama kami, aku memang sekolah disebuah asrama mewah yang berada di pinggir kota tercinta ini, aku tinggal di asrama Lestion lantai tiga dari tujuh lantai yang ada. Aku masih tak percaya aku dapat bertahan di asrama super ketat yang aku tinggali selama satu tahun belakangan ini.


Teng teng teng...
Lonceng asrama berbunyi tepat pukul tujuh malam, yang artinya aku harus bersiap siap menuju ruang aula tengah untuk makan malam. Aku bersama Sessy berjalan menuju aula tengah, tiba tiba di koridor D terdengar jeritan pekik yang mengakibatkan aku dan Sessy memutar balik arah ke koridor tersebut, aku merasa mengenali jeritan tersebut
“Ses ayo cepetan” kataku sambil menarik tangan Sessi, aku merasa jeritan itu memanggilku untuk datang
“ia Ni” jawab Sessi dangan nafas tak teratur
Setelah aku dan Sessy berlari mati matian,belum ada kerumunan orang sama sekali di depan koridor tersebut, aku dan Sessy terkejut melihat kejadian tragis yang terjadi....
“Diana” teriaku sambil berlari menuju ke jasad temanku yang sudah berlumur darah
Aku dan Sessy hanya bisa tercengang, kulihat jasad Diana yang berada di antara pecahan pecahan lampu kristal koridor, Sessy memegang tanganku erat, badan Sessy gemetar, aku tak berani menyentuh jasad Diana, Sessy berbisik padaku
“Diana Ni,koridor D” bisik Sessy lirih dan gemetar
“ia, Diana Ses” jawabku yang masih tak percaya melihat jasad Diana
Tak lama kemudian guru dan murid murid berkerumun mendekati jasad Diana, aku melepaskan genggaman Sessy karena aku melihat ada seseorang yang melambaikan tanganya padaku, yang berarti aku harus kesana
“Ni mau kemana ?” tanya Sessy padaku
Aku tak menjawab pertanyaan Sessy karena aku masih Fokus memandangi orang yang memanggilku.
Aku terus berjalan dan terus berjalan, dan sampai akhirnya aku lihat orang itu memasuki ruang yang tak pernah memasuki bahkan ku lihat satu tahun ini, aku memutuskan untuk masuk keruangan itu, aku buka pintunya dan aku tercengang melihat isi ruangan itu..
“Rumah itu” kataku pelan sambil memandangi isi ruangan yang sama persis dengan rumah di taman tempat sore itu aku duduk
Aku mencari orang tadi, dan ternyata orang tersebut sedang duduk di depan sebuah piano putih dan sedang memainkanya, aku mencoba mendekati dan memegang pundak orang tersebut, aku sempat melihat parasnya, tapi setelah itu aku lupa akan semuanya.

Aku membuka mataku yang terpejam, sidikit kurasakan pusing dikepalaku, aku melihat ada Sessy, Rify, dan BuGrace yang menemaniku
“Nia ?” tanya Sessy yang menunjukan raut muka super khawatir
“Sess aku kenapa ?” tanya ku heran
Sessy langsung memeluku erat
“Sess” tanyaku lagi
“Nia kamu pingsan di dekat koridor F, syukurlah kamu enggak kenapa napa” kata Sessy sambil melepaskan pelukanya
“kamu terakhir dimana Nia ?” tanya Bu Grace sembari memegangi tangan ku
“saya tadi ke ruangan yang nggak pernah saya lihat sebelumnya, terus isi ruangan itu sama persis dengan rumah tua yang ada di taman belakang Bu” jelasku dengan nafas tersengal
Raut muka Bu Grace yang semula tenang tenag saja berubah menjadi seperti orang ketakutan dan tanganya yang semula hangat pun berubah menjadi sangat dingin
“kenapa bu ?” tanyaku sambil memandangi muka Bu Grace yang pucat
“kamu kok bisa kesana, koridor itu larangan Nia” Gertak Bu Grace yang terlihat semakin panik
“saya diajak orang bu, saya juga nggak tau kenapa saya ada di Koridor tersebut, saya terakhir di ruangan itu bukan koridor” jawab ku lagi dengan sangat heran
“orang, Siapa ?” tanya Bu Grace lagi dengan nada yang meningi
“saya nggak tau bu, yang saya lihat orang tersebut bermain piano dan wajahnya cantik” jawab ku dengan sangat lembut
“Fliks, tapi mana mungkin, Nia nama kamu ada huruf F nya ?” tanya Bu Grace lagi
“nama saya Alnia Raissa Jasmine, nggak ada F nya sama sekali” jawabku Sambil terus menatap Bu Grace
“syukurlah bukan kamu” kata Bu Grace sambil menghela nafas lega
“memang kenapa ?” tanyaku heran
“setelah kamu pulih temui ibu, ibu akan menceritakan semuanya” Jawab Bu Grace sambil meninggalkan Nia,Sessy,dan Rify.
Aku masih bingung apa yang terjadi padaku, memang asrama ini sedikit aneh, setiap koridor asrama harus ada seorang yang bekorban nyawa, seorang yang berkorban atau terpaksa berkorban harus berinisial sama dengan koridor tersebut, temanku Diana contohnya dia tewas di Koridor D dan D untuk Diana, Erin yang beberapa bulan lalu meninggalkan kami di koridor E dan sekali lagi E untuk Erin. Setiap koridor yang telah menelan nyawa pasti akan membuka diri dan mengubah namanya menjadi orang yang telah bekorban tadi.


Sampai saat ini koridor yang belum terbuka adalah koridor S dan F, koridor S memang belum menemukan orang yang tepat, tapi koridor larangan, koridor F sudah pernah memakan korban, tapi anehnya koridor tersebut belum mengganti namanya menjadi nyawa yang dia ambil, jadi itu mengapa koridor F menjadi koridor larangan.
“aku akan menemui Bu Grace nanti malam, Sess kamu nanti sendiri ya ke ruang Houlnya” bujukku kepada Sessi yang ingin ke ruang Houl untuk mengambil bukunya yang tertinggal
“oke” jawab Sessy sambil mengacungkan jempolnya
Tak terasa malam telah tiba, jam makan malam pun telah usai, Sessy berpamitan padaku untuk mengambil buku di ruang Houl
“Ni, aku ke ruang Houl dulu ya ?” kata Sessy yang tak biasanya seriang ini
“yup sana sana pergi, hehehe” candaku kepada Sessy
“ye jangan kangen ya” celetuk Sessy
“alah paling Cuma lima menit aja kangen hehehe” jawabku sambil mencubit lengan Sessy
“enggak lima menit, tapi lebih” kata Sessy sambil berjalan meninggalkan ku
“ngomong apaan sih nggak jelas” kataku sambil membenahi buku buku yang berserakan diatas meja
“ahay akhirnya selesai juga” kataku puas sambil merebahkan badan ke tempat tidur
Aku mengambil sebuah buku, dan aku membaca judulnya yaitu “koridor koridor Misteri”
“heft” ku hela nafas panjang dan mencoba berdiri
Aku lupa kalau hari ini aku harus ke tempat Bu Grace, aku langsung ke kamar mandi untuk mengusap mukaku yang kucel, saat aku sedang bersiap untuk pergi ke tempat Bu Grace, tiba tiba tasku yang ku letakan diatas meja jatuh, dan di bawahnya ada sebuah surat dan akupun segera membukanya, dan isi suratnya adalah





Aku memandangi kertas putih bertuliskan merah darah tersebut, aku diam sejenak dan tak ada rasa curiga sedikitpun. Aku memutuskan untuk terus berjalan ke ruangan Bu Grace, tapi saat ditengah perjalanan aku mendengar jeritan pekik lagi, aku yang membawa banyak buku seketika menjatuhkan buku buku itu, aku merasa mengenali lagi jeritan itu,
“Sessy” kataku lirih
Aku berlari menuju koridor S, perasaan ku sudah tak karuan, aku merasa terjadi apa apa dengan Sessy, saat sampai di koridor S sudah banyak kerumunan orang, aku mencoba masuk kekerumunan tersebut, badanku seketika lemas, denyut jantungku berdetak kencang, aku merasa tercekik, air mataku bercucuran, aku hanya terduduk melihat Sessy yang tak bernyawa lagi, aku berbisik kepada Sessy yang berlumur darah
“ternyata S buat Sessy Pricilla Edwan” kataku lirih
Bibirku bergetar saat menyebut nama itu, aku seperti tak percaya, Sessy adalah korban berikutnya. Saat guru guru mencoba mengangkat jasad Sessy, aku melihat bayangan itu, sekalilagi dia melambaikan tangan padaku, aku berusaha untuk menghiraukanya, tapi tak bisa hatiku terus meronta untuk mengikuti bayangan itu. Tanpa sadar aku terus mengikuti bayangan itu, dan bayangan itu menuju ruang yang sama.
“hei” teriaku kepada bayangan itu
Dia hanya membalikan tangan dan tersenyum pahit seakan memanggilku.
Aku meneruskan perjalanku menuju ruang tersebut
“kamu siapa” tanyaku lirih dari belakang
Dia tak menjawab dan tetap tersenyum
“hei, kenapa setiap sahabatku meninggal kau selalu datang ?” tanyaku lagi
“aku datang untuk menjemput” katanya dingin padaku
“menjemput siapa ?” tanyaku keheranan lagi
“menjemputmu Nia” katanya sambil memandang pahit padaku
“menjemputku ? maksud mu ?” tanyaku lagi sambil memegangi tanganya yang sedingin es
“ia , kamu harus ikut denganku” jawabnya penuh misteri
“ikut ? kemana ?” tanyaku sekali lagi dengan nada meninggi
“pulang ke alam dimana setiap orang akan pulang” katanya menyeramkan
“aku tak tau maksudmu, aku serius ?”
Dia tak menjawab dan akupun meras tak sadar lagi
Sekali lagi aku pingsan, pingsan di koridor larangan yaitu koridor F, aku masih tak percaya, sebetulnya siapa orang itu, apa hubungan antara koridor F dan rumah megah itu, kenapa dia bilang akan menjemputku, aku merasa semua itu nyata bukan mimpi, aku merasakan dinginya tangan wanita tersebut, merasakan panasnya udara di ruanganitu, aku yakin tadi bukan mimpi.
Setelah kejadian tersebut aku mencoba bercerita kepada Bu Grace, aku ceritakan semuanya
“sebenarnya apa yang terjadi dengan saya Bu Grace ?” tanyaku dengan nada ketakutan

“apakah orang ini yang kau temui saat kematian Diana ?” jawab Bu Grace sambil menunjukan Foto yang ia genggam
Aku memandangi Foto itu dengan seksama, aku mengganggukan kepalaku yang berarti itu adalalah orang yang ku lihat
“bukan hanya di kematian Diana, di kematian Sessy saya juga melihatnya” kataku lirih
“Sessy ?” tanya Bu Grace heran
“ia Sessy, bahkan aku sempat berbincang dengan orang tersebut” jawabku sambil meneguk minuman yang sedari tadi terletak diatas meja
“berbincang , apa yang kau bicarakan ?” tanya Bu Grace lagi
“dia mengajaku untuk ikut denganya, sebetulnya siapa dia bu ?”
“ikut ? dia Fliks” kata Bu Grace dengan nada melirih
“Fliks, apa hubunganya dengan ku ?”
“Fliks untuk koridor F” kata Bu Grace yang semakin melirih
“koridor F, jadi dia....” kataku yang keheran heranan
Bu Grace menggakukkan kepalanya
“jadi kenapa dia ingin menjemputku ?” tanyaku lagi
“ibu juga tak tau, kenapa dia mempengaruhimu” jawab Bu Grace yang sangat menggantung
“jadi apa yang harus saya lakukan ?” tanya ku terus
“asrama ini, koridor F belum terbuka, sedangkan kamu tidak ada huruf F sama sekali”
Aku menyandarkan tubuhku ke tembok, ku tutup kedua mataku, aku menarik nafas panjang, kemudian kuhempaskan dengan berat, air mataku jatuh sebutir, hatiku tertekan, rasanya sudah tak ingin hidup lagi, rasa takut dan gelisah dalam hatipun menggeluti.Bu Grace tau apa yang kurasakan, dia mendekatiku dan duduk disebelahku, Bu Grace mencoba untuk menenagkanku
“saya takut bu” kataku dalam pelukan Bu Grace
Bu Grace tersenyum dan memeluku erat
Kriiiiiiing.............Alarm jam di mejaku berbunyi, aku bergegas menuju kamar mandi, untuk sekedar mandi dan menyegarkan badanku. Hari ini tak ada kegiatan belajar mengjar, karena hari ini hari minggu. Setelah mandi usai aku memutuskan untuk pergi ketaman belakang.
Aku mengulang sore itu, aku duduk di bangku yang rapuh dan aku masih sendiri. Lebih dari tiga jam aku duduk disana, sampai akhirnya hujan turun, aku memutuskan untuk lari meninggalkan taman dan berteduh di sebuah kedai yang tak terpakai. Aku duduk, dan masih termangu. Aku menjatuhkan kepalaku ke meja, dan air mataku pun ikut jatuh. Aku melihat bayangan Fliks lagi, dia mencoba mendekatiku, aku tak berani memandangi wajahnya. Dia duduk di depan tempat aku duduk.
“Nia, kenapa kau bersedih?” tanya Fliks penuh kelembutan
Aku tak menjawab pertanyaan Fliks, karena rasa takut itu datang.
“Alnia” kata Fliks
Sebelum aku berkata kata bayangan itu menghilang seketika.
Ketika hujan menyisakan gerimis, aku merasa hari sudah sore, aku melangkahkan kedua kakiku ke asrama. Sampai di asrama aku masih gelisah, aku takut kali ini aku yang akan dijemput. Aku masih heran kenapa harus aku sedangkan namaku tak ada inisial F sama sekali. Sejak malam itu aku tak bisa tersenyum lagi, koridor F pun tak sudi lagi ku lewati.
Setelah makan malam usai Bu Grace memanggilku lagi,aku datang ke ruangan Bu Grace, sesampainya aku di ruangan Bu Grace, Bu Grace tersenyum padaku, mempersilahkanku duduk, sudah tiga menit aku dan Bu Grace berbincang yang tak jelas, sampai akhirnya Bu Grace berdiri dan mengajaku ke taman belakang yang sudah gelap.
“Nia aku tau kau masih takut, bahkan sangat takut” kata Bu Grace sambil menggandeng tanganku erat
Aku hanya menganggukan kepalaku perlahan
“ayo Ni masuk” ajak Bu Grace kepadaku untuk memasuki rumah tua itu
“tapi bu.......” kataku terputus putus
“sssst ibu janji gg ada apapa sama kamu” kata Bu Grace sambil meletakan jari telunjuknya di depan bibirku yang bergetar
“hem” kataku lagi mempercayai kata kata Bu Grace
Setelah Bu Grace membuka pintu rumah itu, aku merasa ada yang berbeda dengan rumah tersebut, rumah tersebut menjadi tak berdebu dan rapi, catnya yang kusam pun kini berubah menjadi putih bersih,aku hanya terdiam melihat isi rumah tersebut. Bu Grace mengajaku untuk terus berjalan menuju ruang tengah, aku terus memegang tangan Bu Grace erat bahkan sangat erat.
“apakah ruangan itu yang kau lihat di koridor F” kata Bu Grace sambil menunjukan jarinya ke ruangan yang sama persis dengan ruangan yang ku lihat di koridor F
Aku hanya mengganggukan kepalaku
“tunggu disini, kalau terjadi apa apa segera lari dan minta bantuan, jangan dekati ibu” kata Bu Grace dengan nada yang misterius
Sekali lagi aku hanya mengganggukan kepalaku
Bu Grace berjalan meninggalkanku sendiri, beliau menuju keruangan itu, betapa terkejutnya aku saat melihat Bu Grace yang semula baik baik saja tiba tiba menjerit histeris seperti orang tercekik, aku melangkahkan kakiku ke ruangan tersebut, aku melihat Fliks, aku melihatnya sedang mencekik Bu Grace, dia tersenyum padaku, aku hanya bisa diam, Fliks melepaskan cekikanya pada Bu Grace dan menuju kearahku, aku mengayunkan kakiku mundur, sampai akhirnya menabrak tembok dan tak bisa bergerak lagi, Fliks terus mendekatiku, kedua tanganya seakan ingin mencekikku, sampai akhirnya Bu Grace melemparkan vas bunga ke Fliks dan Fliks membalikan badanya menuju arah Bu Grace. Fliks menginjak injak muka Bu Grace dan badan Bu Grace tergolek lemas. Aku berusaha untuk membantu Bu Grace, tapi Bu Grace berteriak
“lari Nia, lari” kata Bu Grace sambil mencoba melawan Fliks
“tapi..........” kataku terputus
“Cepat pergi darisini Nia” teriak Bu Grace yang semakin merasa tercekik
Aku meninggalkan Bu Grace dengan perasaan yang sungguh tak enak, aku lari keasrama dan meminta pertolongan, aku lari dan terusberlari, aku mencari siapa pun yang dapat membantuku, tapi betapa tercengang nya aku, di koridor iblis koridor F kudapati manyat Bu Grace yang tergeletak kaku. Aku menangis, meronta, dan berteriak untuk meluapkan segala emosiku, tak lama kemudian beberapa guru dan murid datang menghampiriku dan mayat Bu Grace, aku menghapus air mataku dan berdiri menuju pintu koridor F, ku lihat nama Frasta&Flisk disana, aku masih bingung siapa Frasta dan kenapa Bu Grace yang harus berkorban ??? bukankah nama panjang Bu Grace, Zora Algracea ?? aku berlari meninggalkan jasad Bu Grace, aku masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar ntuk merenungkan semua
Tiga hari aku tak membuka kamarku, aku tak makan mau pun beraktifitas, aku hanya terdiam sepi, sampai akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar dan mencari informasi kematian Bu Grace, aku memasuki koridor F, ku lihat sebuah buku jatuh, aku mengambil dan membacanya, aku membawa buku tersebut ke taman belakang.
Aku duduk di bangku rapuh itu, aku mengusap mukaku dengan kedua tanganku, ku mulai membuka lembar pertama buku ter sebut, dan ku temukan

Amanda Fliska Sanbaye
Itulah halaman pertama yang aku lihat, dan aku membuka lembar kedua

Selasa, 25 Februari 1997

Dear LoveLy Diary,
Hari ini aku takut sekali LD(LoveLy Diary), kata neneku koridor F akan menjemputku, tapi aku tak ikhlas LD, aku ingin menangis sekuat tenaga, semoga keputusan yang ku ambil ini benar, ini terakhir kalinya aku menulis LD, karena aku akan mengakhiri hidupku di rumah itu, di rumah tua milik neneku yang ada di taman belakang, Good Bye LD,
LoveLy Diary Ending Part
Flisk

Aku tercengang membaca itu semua, nalarku sedikit berjalan, tapi aku masih bingung, apa hubunganya dengan Bu Grace, aku melihat masih ada halaman selanjutnya dan aku membacanya
Rabu, 25 February 1998
Aku tercengan membaca tanggal pembuatan diary itu, bukankah Fliks telah meninggal, aku mencoba terus membacanya
Dear LoveLy Diary’s
Sebelumya aku minta maaf Fliks, karena aku lancang mencoret coret diary kesayanganmu ini,
Hari ini tepat setahun kau tlah tinggalkan ku untuk koridor iblis itu, tapi pengorbananmu sia sia Fliks, upaya bunuh dirimu di rumah itu memang berhasil dan jasad mu bukan ditemukan di rumah itu tapi malah di koridor iblis itu Fliks, karena koridor dan Rumah itu saling berhubungan, rumah nenekmu itu berhubungan erat dengan koridor F, karena nenekmu telah mengikat janji kepada penghuni koridor tersebut, aku juga tak tau perjanjian apa.........
Kau telah berkorban, tapi koridor tersebut menelanmu mentah mentah dan memuntahkanya kembali, aku berjanji aku akan membalas dendammu, aku akan mengisi koridor tersebut dengan nama margaku dan nama mu FRASTA&FLIKS
Aku berjanji Fliks
Algracea
“jadi.....” kataku lirih
Frasta adalah nama marga Bu Grace dan Fliks mencekik Bu Grace karena dia ingin mencegah Bu Grace untuk masuk kekoridor tersebut, tapi kenapa harus aku yang Fliks inginkan ??
Aku membuka lembar ketiga dan ternyata ada sebuah tulisan
FRASTA ZORA ALGRACEA
FRASTA ALNIA RAISSA JASMINE
Tertulis besar dan jelas, aku tercengang lagi, aku berfikir sejenak
“ah bukankah margaku sma dengan Bu Grace”
Sekarang terungkap semua misteri yanga ada dan aku,Fliks, dan bu Grace adalah satu dan sama.

Aku melangkahkan kakiku kesemua koridor dan semua koridor telah terisi, aku tersenyum bahagia, tapi betapa terkejutnya aku, aku membaca Daftar koridor saat ku lihat koridor A tertulis “Alnia Raissa Jasmine”
“ha ???” aku terkejut dan ternyata koridor “A”.......................

End

1 komentar:

dindong mengatakan...

wah copas ya??hhha(bercnda)

Posting Komentar